Kamis, 20 Maret 2014


LEBIH BAIK DALAM POSISI BENAR DI SALAHKAN DARIPADA DALAM POSISI SALAH DI BENARKAN

By : Mahmud Al Fauzi
Siang hari yang lumayan panas, saya sempatkan diri untuk menulis isi hati kedalam tinta yang menjadi tanda kebenaran. Alhamduilillah, pada suatu pagi, saya mendapat perhatian dari Allah SWT., tapi keronologinya tidak akan utarakan dalam tulisan ini, yang penting kita bisa coba membahas tentang, bagaimana caranya kita dapat menerima dengan lapang dada menerima keritikan dan saran dari orang lain kepada kita.
Pada umumnya manusia selalu ingin berada dalam posisis benar dan tentunya dengan kata lain atau Mafhum Mukholafah[1] –nya ialah kita tidak mau di salahkan. Keadaan ini relatif bisa karena “memang kita itu dalam posisi benar” ataupun “dalam posisi salah”, tetap saja kita tidak mau di salahkan.
Sebenarnya, jika kita melihat judul artikel ini, dapat kita tarik kesimpulan menjadi kalimat yang cocok untuk di jadikan motto hidup agar damai dan tentram yaitu “MENGALAH UNTUK MENANG”. Sangat indah memang ketika kita mendengar kata-kata tersebut, namun bagi sebagian orang amat sangat sulit untuk mengimplentasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Bayangkan saja, ketika kita dalam posisi benar, lalu malah kita yang di salahkan, dan bingungnya lagi jika kita terus memberikan pembelaan terhadap diri kita yang ada adalah kita akan menemui masalah yang lainnya yang tentunya  lebih besar lagi.
Solusinya adalah Pasrah[2] kepada Tuhan yang maha Esa, sekarang anda tinggal menunggu tangan Allahlah yang akan membuka tabir yang tertutupi oleh Dustanya manusia dan semua yang telah mereka tutupi dari mata Dzohir manusia, padahal mereka tidak bisa menipu (menutup mata) Allah dengan kebohongan mereka, karena sungguh mereka bisa berbohongpun itu atas izin Allah.
Insan yang berbahagia, asal anda tahu Allah tidak akan bisa di tipu mereka, sebagai mana firman-Nnya didalam kitab-Nya, yang jika di ambil natijah[3]nya seperti ini “Ketika orang munafik menipu Allah, padalah sesungguhnya Allahlah yang pandai membuat tipu daya”, jadi sungguh manusia yang sedang merasa menipu Allah dengan Kebohongannyalah yang sedang di tipu oleh Allah.


[1] Paham yang sama tapi dengan kalimat Antonim dari kalimat sebelumnya (harus – jangan)
[2] Tawakkal ‘ala Allah
[3] Kesimpulan

0 komentar :

Posting Komentar