Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.....
Sore ini saya mencoba menulis kembali puji dan syukur saya kepada Allah SWT., mari kita mulai tulisan ini dengan Bacaan dengan Bismillahirrahmairrahim dan Alhamdulillahirabbil 'alamin demi Puji kita kepa Allah.
Dan Tak lupa shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Pangeran Jagad raya yakni Rasulullah SAW.
Abu Bakar as-Shiddiq Radhiallahu ‘anhu dikenal sebagai sahabat Nabi
Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang sering memberikan sedekah
kepada fakir miskin, terutama yang masih ada hubungan kekerabatan
dengannya. Satu di antara orang yang biasa dia santuni adalah Misthah
bin Utsatsah, anak bibinya yang tergolong miskin.
Sayangnya
Misthah kurang berhati-hati menjaga lidahnya. Pada saat beredar fitnah
bahwa ‘Aisyah binti Abu Bakr Radhiallahu ‘anhuma telah berselingkuh,
Misthah ikut serta menyebarkan fitnah tersebut. Sehingga ketika turun
ayat yang menjelaskan bahwa tuduhan itu merupakan berita bohong, Abu
Bakar marah kepada Misthah serta bersumpah tidak akan berbuat baik dan
memberi bantuan nafkah lagi kepadanya.
Namun rupanya Allah tidak
menyukai sikap Abu Bakr tersebut. Dia kemudian memberikan teguran kepada
Abu Bakr dan siapa saja yang bersumpah bahwa dia tidak akan berbuat
baik kepada orang lain. Teguran itu disampaikan melalui firman-Nya yang
disampaikan kepada Rasulullah:
وَلَا
يَأْتَلِ أُوْلُوا الْفَضْلِ مِنكُمْ وَالسَّعَةِ أَن يُؤْتُوا أُوْلِي
الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ
وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Dan janganlah orang-orang yang
mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka
(tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang
yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan
hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin
bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (QS: an-Nuur [24]: 22).
Melalui ayat tersebut di atas
Allah juga memerintahkan kepada hamba-Nya agar memberikan maaf dan
kelonggaran serta tetap memberikan nafkah kepada orang yang biasa dia
bantu untuk melanggengkan kebaikan dan silaturahim.
Setelah Abu
Bakr mendengar ayat tersebut beliau berkata, “Benar, demi Allah aku
senang bila Allah mengampuni dosa-dosaku dan aku akan memberi nafkah
kepada Misthah lagi.” Beliau melanjutkan, “Demi Allah, aku tidak akan
membiarkannya terlantar sama sekali.” (lihat Al-Qurthubi, Al-Jami’
Al-Ahkam, XII,207 dan Mukhtashar Ibnu Katsir, II, 593).
Tanda Kemuliaan Diri
Apa
yang terbersit di hati kita ketika ada orang yang menzalimi diri kita?
Secara naluri kita akan marah dan akan berusaha untuk membalas kezaliman
itu. Bahkan ada yang suka membalas kezaliman itu dengan berlebihan.
Tentu
sikap ini apabila tidak segera dipangkas akan membawa dampak negatif
bagi kehidupan manusia itu sendiri, baik bagi kehidupan pribadi maupun
kehidupan bermasyarakat. Bagi kehidupan pribadi, seseorang yang memiliki
sikap ini akan gelisah hatinya dan terkuras energinya karena memikirkan
bagaimana ambisi untuk balas dendam itu terpuaskan. Adapun bagi
kehidupan bermasyarakat, sikap ini akan menyebabkan terjadinya konflik
yang berkepanjangan hingga memakan korban baik harta maupun jiwa.
Agar
kehidupan ini tenang dan tentram, maka sikap yang hanya ingin
memperturutkan nafsu dendam harus diganti dengan sikap mulia yang
diajarkan Islam yaitu sikap memaafkan. Jika masing-masing pihak atau
salah satunya memiliki sikap ini, maka konflik yang terjadi akan reda
hingga berakhir tanpa ada benih-benih dendam lagi.
Untuk menjadi
pribadi yang pemaaf memang tidak mudah. Apalagi jika luka di hati telah
terlanjur menganga. Dalam kondisi seperti ini kadang yang muncul justru
perasaan dendam dan berharap kejelekan terhadap orang yang telah melukai
fisik dan hati. Sehingga jangankan mendoakan kebaikan, memaafkan
kesalahannya saja masih sangat berat.
Keengganan untuk memberi
maaf akan menguat manakala kesempatan untuk menuntut balas terhampar
luas di hadapan. Ditambah lagi jika status sosial orang yang berbuat
salah itu berada jauh di bawah kita. Jika hati tidak ada benteng iman,
bisa-bisa ambisi nafsu untuk balas dendam akan menjelma menjadi tindakan
nyata.
Untuk bisa memaafkan orang yang telah berbuat zalim kepada
kita butuh kebesaran jiwa dan kelapangan hati. Jika seseorang mampu
memberi maaf meski dia berada pada pihak yang benar dan memiliki status
sosial yang lebih tinggi dari pada orang yang telah berbuat jahat
kepadanya, maka itulah tanda kemuliaan dan ketakwaan dirinya. Satu di
antara tanda orang bertakwa adalah tidak berat untuk memaafkan kesalahan
orang lain.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
الَّذِينَ
يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ
وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“…dan memaafkan (kesalahan) orang. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS: Ali-Imran [3]: 134).
Memang
dalam syariat Islam diperbolehkan untuk menuntut balas terhadap
kejahatan yang ditimpakan kepada kita dengan balasan yang serupa. Namun
memaafkan merupakan sikap yang jauh lebih baik dan lebih mulia daripada
membalas kejahatannya meski dengan balasan yang serupa.
وَجَزَاء سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
“Dan
balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka Barang siapa
memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.
Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang lalim.” (QS: asy-Syura
[42]:40)
وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
“Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia.” (QS: asy-Syura [42]: 43).
Sikap
mulia inilah yang dicontohkan oleh Abu Bakar As-Shiddiq. Atas petunjuk
dari Allah, dia lebih memilih memaafkan anak bibinya dengan tulus
daripada membalas kejahatannya meski dia berada pada pihak yang benar
dan juga mampu untuk melakukan pembalasan karena status sosial jauh
lebih tinggi daripada anak bibinya itu. Akhlaq mulia yang dimiliki Abu
Bakr ini patut kita teladani dan kita tumbuhsuburkan dalam pribadi kita.
Memaafkan Manusia, Dimaafkan Allah
Sesungguhnya
Allah Subhanahu Wata’ala Sang Pencipta alam semesta ini memiliki
sifat-sifat mulia yang patut kita teladani. Dan pemaaf merupakan salah
satu sifat mulia yang dimiliki Allah Subhanahu Wata’ala.
Jika kamu
menyatakan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu
kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha
Kuasa. (an-Nisa [4]:149).
Allah Subhanahu Wata’ala yang memiliki
segala kesempurnaan saja bersifat pemaaf. Sehingga tak pantaslah jika
manusia yang banyak khilaf dan lupa tak mau menjadi orang pemaaf.
Rasulullah bersabda; “Sedekah tidak mengurangi harta (orang yang bersedekah). Allah tidak menambah kepada seorang hamba karena maaf melainkan kemuliaan dan seorang tidak bertawadhu kepada Allah, melainkan Allah meninggikannya.”
Rasulullah bersabda; “Sedekah tidak mengurangi harta (orang yang bersedekah). Allah tidak menambah kepada seorang hamba karena maaf melainkan kemuliaan dan seorang tidak bertawadhu kepada Allah, melainkan Allah meninggikannya.”
Pada hadits yang lain Nabi menjelaskan
bahwa mereka yang suka menyambung persaudaraan yang sebelumnya terputus,
memberi kepada orang yang tak suka memberi, serta berjiwa pemaaf
merupakan akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama.
Dari
Uqbah bin Amir, dia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Wahai Uqbah,
bagaimana jika aku beritahuhkan kepadamu tentang akhlak penghuni dunia
dan akhirat yang paling utama? Hendaklah engkau menyambung persaudaraan
dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, hendaklah engkau memberi
kepada orang yang tidak memberimu, dan maafkanlah orang yang telah
menzalimimu.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Baghawi).
Semoga Allah mengaruniai kita sifat pemaaf, suka memberi dan suka menyambung persaudaraan. Wallahu a’lamu bish-shawab.
Wassalamu'alikum warahmtullahi wabarakatuh.
02.33
Cline

Posted in
0 komentar :
Posting Komentar